Percaya Diri, Penemuan Terbimbing, Software Autograph

MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING DENGAN SOFTWARE AUTOGRAPH PADA MATERI VOLUM BENDA PUTAR

Heri Risdianto

Email: hrisdianto@gmail.com

Abstrak

Fenomena yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran saat ini adalah tingkat kepercayaan diri siswa yang rendah. Percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan Ini dapat dilihat ketika diajukan suatu permasalahan matematika, mereka akan menghindarkan diri dari pertanyaan guru, tidak bersedia tampil di depan kelas, bahkan tidak berani untuk mengajukan pertanyaan atau pendapat.. Model pembelajaran penemuan terbimbing merupakan suatu model pembelajaran yang bersifat konstruktivis yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan dalam memperoleh pengetahuannya melalui serangkaian proses kegiatan di mana guru memberikan bimbingan, arahan dan scaffolding kepada siswa pada proses pembelajaran.Tulisan ini akan membahas kepercayaan diri yang berkaitan dengan matematika. dan peran software Autograph dalam membangun kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah matematika khususnya volum benda putar di kelas.

  1. Pendahuluan

    Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, satuan pendidikan diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Selain itu, perlu ada pembahasan mengenai bagaimana matematika banyak diterapkan dalam teknologi informasi sebagai perluasan pengetahuan peserta didik.

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  • Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
  • Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
  • Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
  • Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
  • Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (KTSP 2006)

Sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah sangat diperlukan agar dapat bersaing dalam era globalisasi dan dunia kerja. Kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikan seringkali ditemukan siswa yang kurang percaya diri, tidak yakin dengan kemampuannya, atau pasrah saja menerima nasib. Kondisi ini jika dibiarkan tentulah akan dapat berakibat buruk terhadap masa depan siswa di kelas berlanjut di luar kelas. Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan sudah seharusnya guru/dosen mencari suatu cara untuk dapat mengatasi masalah ini. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang seharusnya dapat mengembangkan kepercayaan diri siswa terhadap matematika.

  1. Pembahasan
    1. Percaya Diri

Percaya diri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Perasaan mendalam seseorang bahwa ia mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain”.

Percaya diri dapat diartikan bahwa suatu kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki dapat di manfaatkan secara tepat. Psikolog W.H.Miskell di tahun 1939 telah mendefinisikan arti percaya diri dalam bukunya yang bertuliskan “Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat.” Tak lain halnya psikolog maslow yang berkata “Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan aktualitas diri. Dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Sementara itu, kurangnya percaya diri akan menghambat pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain“.

Sedangkan kepercayaan diri dalam belajar matematika adalah penilaian terhadap diri sendiri, meliputi keyakinan yang dimiliki individu dalam menyelesaikan masalah matematika ataupun keyakinan dalam belajar untuk memahami konsep dan menyelesaikan tugas matematika.

Menurut pakar psikologi, Lindenfield (Lasotisari 2007:32) mengemukakan bahwa :”Hasil analisis tentang percaya diri ada dua percaya diri yang berbeda yaitu percaya diri batin dan percaya diri lahir. Percaya diri batin adalah percaya diri yang memberi kepada kita perasaan dan anggapan bahwa kita dalam keadaan baik. Percaya diri lahir adalah percaya diri yang memungkinkan kita untuk tampil dan berperilaku dengan cara menunjukkan kepada dunia luar bahwa kita yakin akan diri kita”.

Selain dua jenis kepercayaan diri di atas, menurut Angelis (Lasotisari,2007:32) ada tiga jenis kepercayaan diri yang perlu dikembangkan, yaitu tingkah laku, emosi, dan kerohanian (spiritual). Yang berkenaan dengan tingkah laku adalah kepercayaan diri seseorang untuk mampu bertindak dan menyelesaikan tugas, hal ini hampir sama dengan kepercayaan diri lahir. Kepercayaan diri yang berkenaan dengan emosi yaitu kepercayaan diri individu untuk yakin dan mampu menguasai sisi emosi, baik memahami perasaan, menggunakan emosi untuk melakukan pilihan yang tepat, melindungi diri dari sakit hati, dan mengetahui cara bergaul yang sehat, hal ini hampir sama dengan kepercayaan diri batin. Percaya diri yang bersifat spiritual adalah yang terpenting dari ketiganya, seperti keyakinan individu pada takdir dan semesta alam, keyakinan bahwa keberadaan seseorang mempunyai makna dan hidup ini memiliki tujuan. Tanpa kepercayaan diri spiritual, tidak mungkin seseorang dapat mengembangkan kedua jenis kepercayaan diri lainnya.

  1. Pembelajaran penemuan terbimbing

Model pembelajaran penemuan terbimbing merupakan suatu model pembelajaran yang bersifat konstruktivis yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan dalam memperoleh pengetahuannya melalui serangkaian proses kegiatan di mana guru memberikan bimbingan, arahan dan scaffolding kepada siswa pada proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam pendekatan penemuan dalam penelitian ini adalah: 1) Menyajikan situasi, 2)merumuskan masalah, 3)mengajukan dugaan/hipotesis, 4)mengumpulkan data, 5)menguji hipotesis; 6) merumuskan kesimpulan.

Menurut Esler (dalam Marhendri, 2007), ditinjau dari model pembelajaran yang digunakan, penggunaan model penemuan terbimbing dibedakan atas tiga bagian yaitu model pembelajaran rasional, model pembelajaran penemuan dan model pembelajaran eksperimen. Dalam model pembelajaran rasional guru menggunakan teknik bertanya dan penguatan kembali pada siswa secara langsung serta kemudian mengarahkannya pada penyelesaian suatu masalah. Dalam model pembelajaran penemuan, guru memberikan bahan-bahan pada siswa kemudian dilanjutkan dengan memberikan bimbingan dalam observasi untuk membantu penalaran siswa. Sementara pada model pembelajaran eksperimen aktivitas belajar siswa dilakukan mmasukelalui suatu prosedur berupa pembuatan suatu pernyataan yang diperkirakan benar, kemudian membuat langkah-langkah untuk menguji pernyataan tersebut.

Joyce dan Well (1992) mengemukakan bahwa model pembelajaran penemuan terbimbing terdiri dari lima fase, yaitu :

1. Confrontation with the Problem : Fase di mana siswa diharapkan pada suatu permasalahan yang harus diselesaiakan.

2. Data Gathering-Verification : Fase di mana siswa mengumpulkan data dari informasi yang ia amati.

3. Data Gathering-Experimentation : Fase di mana siswa mengumpulkan data hasil eksperimen.

4. Organizing-Formidating Explanation : Fase di mana siswa mengorganisasikan data dan penjelasannya.

5. Analysis of The Inquiry Process: Fase di mana siswa menganalisa proses temuannya.

Berdasarkan ke-lima fase tersebut maka siklus penemuan terbimbing dapat digambarkan seperti berikut:

1.     Bertanya.

Kegiatan penemuan terbimbing dimulai ketika guru mengajukan pertanyaan/permasalahan. Pertanyaan bisa dituliskan di papan tulis/LAS, kemudian siswa mengikuti petunjuk yang di LAS.

2.     Observasi.

Mengamati dan mengumpulkan data yang diamati dari permasalahan dan obyek yang akan ditemukan.

3.     Mengajukan dugaan.

Dugaan sementara dari siswa merupakan solusi dari pertanyaan yang diajukan. Pada tahap ini umumnya siswa kesulitan mengajukan dugaan. Untuk memudahkan proses ini, guru memberikan umpan berupa pertanyaan yang dapat memberi gagasan kepada siswa untuk menduga. Dari dugaan-dugaan yang diajukan siswa, dipilih salah satu dugaan yang paling relevan dengan permasalahan yang diberikan. Pada tahap ini, kemampuan komunikasi yang dituntut adalah siswa mampu mengajukan dugaan.

4.     Pengumpulan data.

Pengumpulan data bertujuan untuk menuntun proses pengujian dengan data

yang dihasilkan berupa tabel, matrik, atau grafik. Di dalam proses pengumpulan data, siswa bereksperimen dengan melihat benda-benda nyata menuju abstrak. Pada tahap ini, lima kemampuan matematik siswa dibangun seperti ketika siswa merepresentasikan data ke bentuk tabel dan grafik sehingga kemampuan representasi matematik siswa terbentuk oleh kondisi tersebut.

5.     Analisis dan membuat kesimpulan

Setelah data dianalisis dan fakta-fakta yang dikumpulkan dalam pengujian dugaan, siswa menarik kesimpulan.

Karena model pembelajaran penemuan terbimbing terdapat tahapan observasi/pengamatan yang mengarah pada pemahaman suatu konsep, sebaiknya pembelajaran dibuat menarik bagi siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu siswa dan mau melakukan observasi. Dalam hal ini guru perlu mengarahkan siswa agar mampu mengamati persoalan dengan cara mengajukan pertanyaan yang dapat mengarahkan ke konsep yang diinginkan. Karena pengamatan terarah pada suatu konsep, mungkin timbul hal-hal yang harus diketahui siswa, namun siswa belum mengetahuinya. Untuk itu siswa akan berusaha mencari tahu dengan bertanya kepada sesama siswa. guru, atau sumber lain. Setelah hal-hal yang ingin diketahui terkumpul, untuk mengarah kepada suatu konsep siswa perlu mengajukan dugaan untuk kemudian mengujinya dengan menganalisis berdasarkan data-data yang ada agar dapat menemukan sesuatu.

Tujuan utama dari pembelajaran penemuan terbimbing adalah membantu siswa mengembangkan ketrampilan intelektual dan ketrampilan-ketrampilan lainnya, seperti mengajukan pertanyaan dan menemukan atau mencari jawaban yang berasal dari keingintahuan siswa.

  1. Pembelajaran Penemuan terbimbing dengan software Autograph

Contoh dari proses yang diuraikan di atas dapat dijumpai dalam suatu situasi seperti berikut ini

Ketika seorang siswa dihadapkan pada situasi atau masalah menghitung volum benda putar jika suatu kurva diputar mengelilingi sumbu x atau sumbu y, siswa akan kesulitan untuk menggambarkannya pada bidang datar namun melalui model pembelajaran penemuan terbimbing dengan software autograph hal ini dapat teratasi. Berikut ilustrasinya:

  1. Fase Mengajukan pertanyaan

    Hitunglah volume benda putar yang terjadi oleh daerah yang dibatasi oleh kurva kurva

    y = x, x = 0 dan x = 3, diputar sejauh 360 terhadap sumbu x. tentukan volume benda putar yang terbentuk !

  2. Fase Observasi

    Di sini guru memberikan langkah-langkah menggunakan Autograph. Konsep yang dipelajari saat menemukan luas daerah dapat juga diaplikasikan pada volum benda putar

    Buka halaman 3D baru

    Edit axes – 5 ≤ x ≤ 5, -5 ≤ y ≤ 5 dan -5 ≤ z ≤ 5.


    Masukkan persamaan: y = x

    Pilih plot menjadi 2D

    Pilih x-y Orientation

    Sorot pada kurva, klik kanan dan pilih find area atur start point 0,
    end point 3 dan the number of division 5

    Aktifkan Slow plot mode


    Sorot daerah, klik kanan dan pilih find volume

    Jenis bangun apakah yang terbentuk? Bagaimana menghitung volum bangun tersebut?

  3. Fase mengajukan dugaan

    Pada fase ini siswa dapat menduga atau menghitung volum benda putar yang terbentuk menurut pengetahuannya

  4. Fase Pengumpulan data

    klik dan drag untuk menggerakkan dan memutar objek sehingga siswa dapat dengan jelas melihat bangun yang terbentuk.

    Sorot tabung dan klik Animate object Pilih divisionsi dari drop down menu naikkan nilai divisions menjadi 100.

  5. Fase Analisis dan membuat kesimpulan

    Dari gambaran-gambaran yang terbentuk dan perhitungan-perhitungan yang dibuat siswa, siswa dapat membandingkannya dengan hasil yang ditunjukkan oleh software autograph. Ini merupakan petunjuk besar untuk memperkenalkan siswa rumusan


  6. Penutup

Dari uraian di atas terlihat konstribusi dari pembelajaran penemuan terbimbing dengan software Autograph dalam membangun kepercayaan diri siswa untuk dapat menyelesaikan masalah dan menemukan konsep matematika. Jika pembelajaran seperti ini dilakukan terus menerus maka kepercayaan diri siswa akan terus meningkat. Siswa akan lebih kreatif dalam menghadapi masalah matematika.

Selanjutnya mengajar melalui pemberian masalah-masalah memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun konsep matematika sehingga paham dan mengembangkan keterampilan matematikanya. Untuk menyelesaikan masalah, siswa harus mengamati, menghubungkan, bertanya, mencari alasan dan mengambil kesimpulan sendiri.

. Walaupun banyak sekali aspek yang mempengaruhi, namun kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dapat dibentuk melalui kegiatan di kelas, salah satu cara yang efektif dalam menumbuhkan keyakinan matematik siswa adalah melalui guru, buku teks, strategi pembelajaran, dan yang utama, pemanfaatan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk kegiatan pembelajaran.

Daftar Bacaan

Aprilia, Wiwiek (2011), Arti Percaya Diri [On Line] tersedia: /http://wiwi-ciwit.blogspot.com/2011_10_01_archive.html

Bandura, A. (1997). Self- Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company

Butler, D dkk (2010), Autograph Training Material. UK: Eastmond Publishing Ltd

Firmansyah & Fauzi, Amin (2011) Kontribusi Metakognisi di Dalam mengembangkan Self-Efficacy Matematis Siswa di Dalam Kelas Kultura Volume: 12 No.1

Lasotisasari, D. (2007) Keefektifan Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa yang Tidak Naik Kelas Skripsi. Semarang: UNNES. Tidak diterbitkan

Sumarmo, Utari. (2007). Kemandirian Belajar: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik. Makalah tidak diterbitkan, PPs UPI Bandung.

Tim Penyusun (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s